Mengulik Makna Mendalam di Balik Lagu Hindia; Anak Itu Belum Pulang
Jumat, 24 April 2026 23.00 WIB
|
Ruang Makna, Surabaya- Anak itu belum pulang adalah salah satu lagu dari mixtape Hindia yang berjudul Doves, ’25 on Blank Canvas yang dirilis pada 24 Februari 2025, , yang sekarang sudah didengarkan sebanyak 3.747.069 kali di Spotify oleh para pendengar. Dalam lagu ini Hindia menggambar perjalanan emosional yang dialami oleh seseorang yang merindukan sosok anak yang hilang dan belum kembali hingga saat lagu itu diciptakan. Bukan hanya tentang cerita pribadi tapi juga mencerminkan kehilangan yang dialami masyrakat Indonesia, tentang sejarah kelam tahun 98 yang menyentuh banyak jiwa. Hindia mengajak pendengar untuk tidak melupakan sejarah kelam yang telah terjadi di Indonesia, contohnya adalah pelaggaran hak asasi manusia. Melodi dalam lagu ini diselimuti dengan nuansa duka, pertanyaan, dan harapan yang terus ada sampai mendapatkan jawaban dan keadilan.
Pada video tiktok @santuyqueen di aksi kamisan Baskara sebagai vokalis serta penulis dari lagu “anak itu belum pulang” menyampaikan sepatah dua kata dan salah satunya membahas karya lagu-lagunya yang berhubungan dengan kamisan dan kisah bu Sumarsih. Setiap liriknya pada lagu anak itu belum pulang memiliki makna yang mendalam dan melodi yang menyentuh, dalam lagu nya Baskara menulis lagu ini sebagai dirinya ketika pertama kali mendengar aksi kamisan ketika ia duduk pada bangku SMP. Lagu ini hadir karena timbul pertanyaan dalam diri Baskara, apa rasanya jadi mereka yang setiap hari melakukan aksi kamisan namun tidak pernah mendapat respon dan hasil yang diinginkan. Dia juga menyebutkan bahwa kisah bu Sumarsih dan aksi kamisan ini bisa ditulis dan disampaikan lewat album dan lagu-lagu yang ia buat, sebagai seorang seniman ia ingin membantu aksi kamisan ini menjadi sebuah sejarah yang tercatat dalam karya nya. Sesuai dengan penggalan liriknya “Aku bantu semampuku, Merawat cerita di dalam kepalaku, Kamu bantu semampumu, Menebar cerita jauh ke penjuru.”
Baskara
benar-benar merawat cerita tragedi kelam ini dengan baik agar masyarakat tidak
lupa begitu saja dengan pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia tahun 98 kala
itu, setiap ia konser tak pernah lupa untuk menampilkan visualisasi yang
sungguh menarik bahkan mengundang perasaan yang mendalam akan kejadian kelam
itu. Kombinasi karya lagu dan visual yang pas dan akan mudah diingat dan
menjadi cerita abadi bagi yang menontonnya.
Bukan
sekadar lagu yang menulis sejarah kelam dan perasaan Baskara melihat aksi
kamisan, tetapi mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar
dan isu sosial. Lagu ini menjadi pengingat dan berkontribusi membantu sekitar
bahwa banyak disekitar kita yang mengalami kesedihan, perjuangan, dan
kekecewaan. Keadilan dan perjuangan perlu disuarakan dan bisa disuarakan dengan
berbagai cara bahkkan melalui karya kita.
Baskara
juga menyampaikan bahwa banyak fans nya juga menyuarakan aksi kamisan, ia
melihat fans Hindia dan .feast sering hadir dalam aksi kamisan dan ramai
menyuarakan di sosial media. Baskara bukan hanya menciptakan karya tapi ia
berhasil membuat pendengar untuk terjun dalam aksi kamisan dan lebih peka.
Hadirnya
musisi seperti Baskara adalah suatu hal yang berharga dan penting, sebagai
figur musisi di Indonesia karena dia berhasil menunjukkan kalau musik bukan
hanya tentang hiburan namun juga menjadi tempat untuk bersuara. Hindia berhasil
membuat karya dan menggerakkan pendengar untuk aktif terbukti dengan acara aksi
kamisan dari fanbase Hindia yang bernama “team Hindia”
| Aksi Kamisan ke-900 kolaborasi dengan team Hindia (sumber; narasumber) |
Bukti
nyata dari karya ini adalah pada aksi kamisan ke-900 di surabaya berkolaborasi
dengan team Hindia Surabaya pada tanggal 5 Maret 2026 di Taman Apsari.
Mewawancarai salah satu fans Hindia bernama Asa seorang mahasiswa komunikasi
UPNVJT yang ikut hadir pada aksi kamisan menyampaikan “menjadi pendengar lagu
dari Hindia dan .feast membangkitkan semangat aktivis/korban yang ditindas
untuk tetap bersuara.” Fans juga melihat Baskara sebagai sosok vokalis yang
bukan hanya sekedar bernyanyi namun komunikator yang berani menyuarakan
keresahan banyak orang. Lagu-lagunya hadir untuk mengangkat isu yang banyak
orang takut untuk bersuara, terutama soal sosial politik.
Sebagai
pendengar Asa juga berkata bahwa Baskara bukan hanya sekedar berani, tapi
bagaimana cara dia bisa menyampaikan pesan yang benar-benar dalam dan
berhubungan dengan para pendengarnya. Asa merasa dia bukan hanya sebagai
pendengar tetapi diajak menjadi pendengar yang aktif berfikir dan merenung
dengan sejarah-sejarah kelam yang ada di Indonesia. Karya nya menjadi jembatan
untuk pendengar sebagai fans yang lebih peduli dengan kondisi sekitar, termasuk
ketidakadilan atau suara korban atau aktivis yang sering diabaikan, ucap Asa.
#Hindia #AnakItuBelumPulang #AksiKamisan
Penulis : Risnel Swaranya N
Editor : Risnel Swaranya N
Comments
Post a Comment